SOBAT INSPIRATIF
15 May 2015

Pejuang Tanah Harapan

Ketika konflik di Poso justru mengispirasi Lian membawa perubahan positif

Konflik membara di kawasan Poso tidak mampu menggentarkan niat Lian Gogali mendirikan sekolah-sekolah bagi kaum perempuan akar rumput. 


Medio 2007, tanah Poso masih dirundung kelam. Ledakan bom dan peristiwa penembakan masih sering terjadi di tanah eksotis tersebut. Sisa-sisa konflik lintas agama (1998-2000) di sana belum benar-benar reda. Kala itu, dari perantauannya di Yogyakarta, Lian Gogali, 36, berinisiatif mendirikan sekolah-sekolah bagi perempuan di tanah Poso. Tujuannya, supaya para perempuan dari kalangan akar rumput bisa kembali mendapatkan hak mereka untuk bersuara, sekaligus didengarkan.

Niat Lian berakar dari kejadian delapan tahun sebelumnya. Lian yang tengah menimba kuliah S1 di Yogyakarta, pada 1999 mesti kembali ke Poso karena sang ayah meninggal dunia akibat sakit ginjal. Pada momen yang bersamaan dengan memuncaknya konflik Poso, ia mendapati banyak sekali perbedaan antara pemberitaan di media massa dengan realitas yang terjadi di lapangan. 

”Saya mendengar kabar berbeda dari pemberitaan-pemberitaan media massa, yang hanya mengekspos tentang permusuhan,” tutur Lian. Ia justru menyaksikan betapa umat Muslim dan Kristen saling bahu-membahu di lokasi-lokasi pengungsian. Kebetulan, Desa Morowali, tempat kediaman orang tua Lian, menjadi salah satu lokasi pengungsian yang hanya berjarak dua jam perjalanan dari Poso.
“Cerita-cerita seperti ini tidak pernah muncul. Saya mendengar dan melihat secara langsung bagaimana hal-hal itu terjadi,” ungkap ia.

Membaca karya Urvashi Butalia, yang mengangkat isu tentang perempuan dan anak-anak di lokasi konflik di India, lantas memicu kepedulian Lian terhadap kejadian yang sama di Poso. Seraya menyusun tesis kuliah, Lian meneliti isu-isu tersebut pada 2002-2003. Kelak, penelitian itu pulalah yang kemudian memengaruhi Lian untuk secara total kembali ke kampung halamannya.  

Meski konflik tidak sehebat yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya, namun atmosfer Poso ketika itu masih mencekam. Pasca1998, konflik berdarah memang terlanjur menyebar ke segala penjuru daerah, bahkan hingga ke pelosok-pelosok desa.

Sembari meneliti, ia melebur bersama para pengungsi. Lian bahkan tidur dan tinggal bersama mereka di kamp-kamp pengungsian. Namun ia tak pernah menyangka, jika pertanyaan seorang ibu akan berdampak terhadap kelanjutan hidupnya. 

“Sebenarnya penelitian ini untuk apa? Lalu setelah ditulis, apa yang akan terjadi dengan kami nanti?” tanya gelisah ibu itu kepada Lian di lokasi pengungsian Desa Silanca, Kecamatan Lage. 



Lian merasa tertampar. Pun ia dibuat tersadar. Sudah terlalu banyak kesuksesan yang berhasil diraih orang-orang karena berbagai riset yang dilakukan di Poso – termasuk Lian yang menyabet titel doktor berkat penelitian di sana. Bahkan, tesis Lian telah diterbitkan menjadi buku.

“Terlalu banyak energi yang kita isap dari para korban, tetapi setelah itu kita tidak melakukan apa pun,” katanya. “Saya merasa harus mengembalikan apa yang saya telah ambil.” 
Ironisnya, ia pun mesti melepaskan pekerjaan sebagai peneliti DIAN/Interfidei, lembaga interfaith yang berlokasi di Yogyakarta. Lian akhirnya memutuskan kembali ke Poso pada 2007, demi menjawab pertanyaan ibu dari kamp pengungsian.

Menggunakan biaya pribadi, Lian mulai merintis lembaga pendidikan untuk perempuan di awal 2010. Ia mengusung nama yang lekat dengan kamus daerah Poso, yakni Mosintuwu, yang berarti bekerja bersama-sama. 

“Karena dari penelitian saya waktu itu, perempuan-perempuan yang dianggap ‘biasa’ itulah yang sebenarnya justru memiliki dampak sangat kuat terhadap perdamaian,” Lian menerangkan alasannya. “Mereka sebenarnya punya potensi, bahkan dengan cara yang sehari-hari. Namun sayang, (peran) mereka tidak pernah dianggap penting.”  

Meski kerap menemui kesulitan dalam menyatukan para ‘siswa’ yang berlatar belakang majemuk, namun secara perlahan kegiatan belajar-mengajar bisa berjalan. Bias kekebencian dan kecurigaan dari mata para siswa perlahan memudar, seiring pemahaman yang bertambah.

Bermula dari hanya dua unit sekolah yang berlokasi di Pamona, kini Mosintuwu sudah berkembang ke 37 desa dengan 16 sekolah. Khusus angkatan terakhir, ada sebanyak 350 ibu yang bergabung. 
Lembaga Mosintuwu saat ini dijalankan oleh 14 ibu berprestasi, yang merupakan lulusan sekolah Mosintuwu angkatan pertama. “Ibu Evi, yang dahulu hanya berstatus ibu rumah tangga, sekarang sudah piawai bernegoisasi dengan Kasat Reskrim. Ia menjadi pendamping kasus-kasus kekerasan terhadap anak-anak dan perempuan,” ucap Lian lega. “Padahal ia hanya lulusan SMP!”

Selain sekolah, Mosintuwu kini menerbitkan koran lokal yang memberdayakan ibu-ibu sebagai para jurnalis. “Meskipun saya mesti mengedit kembali tulisan-tulisan itu,” Lian menjelaskan setengah tertawa. Bank sampah dan pengembangan kawasan ekowisata di sekitar Poso pun dikembangkan. Benar, para pengelolanya adalah ibu-ibu dari sekolah perempuan Mosintuwu.

Sembari menajamkan misi ekowisata Poso, Mosintuwu meluncurkan kampanye perdamaian. Secara tegas Lian menyampaikan lisan hangat, “Poso bukan daerah konflik. Poso adalah tanah harapan bagi orang-orang yang bisa berbicara tentang perdamaian.” (Sandi Eko)



inspirasi

Orang yang paling tidak bahagia di dunia ini adalah ia yang paling terlalu memikirkan apa yang dipikirkan orang lain.

C. JoyBell C.
Telah Terbit
September 2015




Review

The Warrior Daughter

10 Sep 2015

Judul :The Warrior Daughter Penulis : Happy Salma Penerbit : Titimangsa Foundation Tahun Terbit : Cetakan I, 2015 Jumlah Halaman : 256 halaman The Warrior Daughter mengisahkan biografi Desak Nyoman Suarti, Kartini masa kini yang mempertahankan desain kerajinan perak khas nusantara dari kl...


Daylight

10 May 2015

Iris Boelens, pengacara, mengalami kasus pelik yang melibatkan kliennya, seorang produser film dewasa. Belum selesai kasus tersebut, ia juga harus menemukan kenyataan bahwa ia ternyata memiliki seorang kakak kandung, Ray, yang sedang menjalani masa tahanan. Kunjungan Iris kepada Ray di penjara m...


Album Perdana Milik Frau Akan Dirilis Ulang

4 Feb 2015

Perilis album piringan hitam yang bermarkas di Yogyakarta, menyampaikan kabar gembira: album perdana Frau akan dirilis dalam format piringan hitam! Anda masih ingat dengan Starlit Carousel? Ya, merupakan judul mini-album yang berisikan materi lagu-lagu apik milik Frau, yang pernah dirilis secara ...


Sate Jepang Nan Lezat Menawan

3 Sep 2015

Kalau Anda mengira bahwa kuliner Jepang hanya melulu sushi, yakiniku, teriyaki dan chicken katsu, maka Anda salah besar. Karena selain mereka ada pula hidangan bernama yakitori. Salah satu restoran yang mengkhususkan diri pada hidangan jenis ini adalah restoran Robaa Yakitori, yang pertama kali buka...


service solahart

12 Nov 2013

Service Solahart Water Heater Hub : (021 )71231659 – 082113812149 / 085920773653 CV.Fikri Mandiri Jaya Alamat: Jalan Raya Pasar Minggu No.09 Pancoran Jakarta Selatan Email:mandirijaya.fikri@yahoo.com www.fikrimandirijaya.webs.com Kami adalah penyedia jasa service / perbaikan pemanas air,...