SOBAT INSPIRATIF
10 Mar 2015

Merancang Kampung Impian

Seorang pemuda asal Karawang mencoba memberdayakan masyarakat desa meski banyak tantangan.

Kendati sumber daya perekonomian tersebar di lingkungannya, namun penduduk Desa Tanjung Mekar hanya bisa menjadi penonton. Sampai akhirnya datang sebuah harapan baru.

Pemandangan Kabupaten Karawang didominasi hamparan lahan luas persawahan yang beririsan dengan area industri dan pemukiman penduduk. Pabrik-pabrik besar berbaris hingga puluhan kilometer, namun nasib penduduk Desa Tanjung Mekar, Kecamatan Karawang Barat, seperti digilas kesombongan bangunan-bangunan tersebut. Desa tersebut dibekap masalah pengangguran dan anak-anak balita yang tidak bisa mendapatkan pendidikan yang layak. 

Syukurlah, potret sedih itu kini tinggal kenangan. Sebab, para pemuda Tanjung Mekar kini memiliki kesempatan lebih besar untuk memperbaiki nasib. Pasalnya sejumlah perusahaan telah bersedia menampung mereka karena telah dibekali keterampilan untuk menjadi drafter, atau keahlian lain untuk bekerja di pabrik otomotif. 

Sadar bahwa membangun generasi yang siap menghadapi tantangan zaman harus dimulai sejak dini, di desa tersebut juga telah didirikan lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Mawar yang memberi pengajaran untuk para bocah yang berasal dari keluarga kurang mampu. Hingga saat ini PAUD Mawar sudah delapan kali sukses mengadakan wisuda kelulusan. Kesuksesan PAUD Mawar ternyata merupakan katalisator bangkitnya sejumlah PAUD lain di sekitar desa itu.

Transformasi Desa Tanjung Mekar memang luar biasa, dan Solehuddin, 29, adalah pria di balik kebangkitan tersebut. Ketika ia menginjakkan kakinya kembali di Karawang 2004 silam, hatinya gelisah. Setelah beberapa tahun mempelajari ilmu desain grafis bersama teman-temannya di Bogor, ia melihat banyak ketimpangan di desa yang telah ia tinggalkan selama ini.

“Kala itu, saya menyaksikan para pemuda Tanjung Mekar tak memiliki aktivitas yang berarti,” ungkapnya. “Para pengangguran tak mampu bersaing dengan para pendatang, membuat keinginan mereka untuk bekerja di kawasan industri seakan hanya ilusi. 

Solehuddin kemudian menyadari bahwa jumlah taman kanak-kanak di desanya sangat minim, hanya tiga unit. Rupanya, menyekolahkan anak di taman kanak-kanak identik dengan biaya mahal. Hal itu bagi para orang tua dirasa terlalu kontras dengan kondisi perekonomian mereka, yang umumnya menggantungkan roda perekonomian keluarga dengan cara bertani. 

Huddi serta merta sadar bahwa akar permasalahan ekonomi di desanya berawal dari rendahnya pendidikan masyarakat. Ibarat sebuah roda, masyarakat Desa Tanjung Mekar tidak punya “oli” yang cukup baik untuk bisa memutar nasib mereka dari bawah ke atas. Pada 2005, Huddi akhirnya memberanikan diri untuk membuka PAUD Mawar di teras depan rumah orang tuanya. 

Namun ketika itu warga justru sempat pesimis mengenai rencana Huddi mendirikan PAUD. Buktinya, beberapa di antara mereka sempat mempertanyakan kondisi belajar mengajar yang serba minimalis: tanpa seragam sekolah dan lokasi yang terkesan seadanya.

“Tidak nyaman untuk anak-anak,” kata salah satu warga ketika itu. Huddi pun mencoba memberi penjelasan secara gamblang kepada para orang tua, dan hasilnya 40 anak didik terdaftar sebagai angkatan pertama PAUD Mawar.  

Kesulitan lain yang dihadapi Huddi adalah dari sisi jumlah tenaga pengajar yang terbatas. Maklum, menghadapi anak-anak balita serta membujuk mereka untuk mau belajar, bukanlah hal yang mudah. Untung saja tiga orang pemuda lulusan SMA kemudian bergabung menjadi tenaga pengajar di PAUD Mawar. 

Genap berjalan setahun, Huddi kembali mendapatkan cobaan. “Rupanya ada yang tidak suka melihat keberadaan PAUD Mawar, sehingga menyebarkan kabar negatif,” kata Huddi. “Dikatakan bahwa PAUD tidak diakui oleh pemerintah. Berbeda dengan lembaga pendidikan usia dini lain yang diakui pemerintah.” 

Kabar tersebut rupanya sedemikian santer, sampai-sampai banyak orang tua murid yang berhenti mengizinkan anak mereka bersekolah di PAUD Mawar. Huddi kembali melakukan pendekatan kepada orang tua murid, untuk menangkis kabar negatif yang menimpa PAUD Mawar.

“Saya sampai door-to-door menjelaskan kepada orang tua murid,” ungkap Huddi. “Alhamdulillah mereka akhirnya paham dan kembali menyekolahkan anak mereka ke PAUD.”

Tantangan yang dihadapi Huddi ternyata bukan saja dari faktor eksternal. Dari sisi keluarga, pun, Huddi sempat memperoleh protes. Nuhdi, ayahnya, gusar karena Huddi sibuk mengurusiorang lain, padahal dukungan dari pemerintah setempat sangat kecil.

Manéh mah karajinan! (Kamu terlalu rajin, Red),” lontar Nuhdi, Ayahnya, dalam dialek Sunda, kepada Huddi. 

Bagaimana tidak, Biaya Operasional Perawatan Fasilitas (BOPF) untuk menjalankan lembaga PAUD yang Huddi peroleh dari pemerintah hanya berkisar 4-6 juta rupiah per tahun. Itu pun sudah termasuk insentif untuk tenaga pengajar dan biaya-biaya lain. Artinya, setiap bulan Huddi harus menganggarkan tambahan paling tidak Rp500 ribu untuk biaya aktivitas mengajar. Jumlah uang yang tidak sedikit buat masyarakat di desa tersebut.

Huddi tidak patah semangat. Di sela-sela kesibukannya mengajar 40 anak didiknya, Huddi mendirikan usaha percetakan, seperti sablon mug (gelas keramik), spanduk, cetak undangan, dan lain-lain. 
Keuntungan usaha itu ia manfaatkan untuk menutupi kebutuhan biaya PAUD. Sisanya, selain untuk keperluan pribadi, Huddi juga menggunakannya untuk membantu warga kampung, terutama untuk mendorong pemuda kampung dalam mempelajari bidang desain grafis. Tujuannya jelas, agar mereka tidak menganggur atau bahkan membuka lapangan pekerjaan. 

“Jadi saya membagi aktivitas menjadi dua, yaitu mulai pukul 07.30 sampai 10.00WIB bersama anak-anak didik usia dini di PAUD, sedangkan di sore hari saya membuka kelas desain grafis cuma-cuma bagi pemuda setempat,” ujar Huddi. 

Tempat yang dipilih sebagai ruangan workshop tidak jauh-jauh dari PAUD Mawar berada: tepat di sebelahnya. Dari ruangan workshop mungil dan sederhana yang ia beri nama Mahakarya, Huddi berhasil “meluluskan” sejumlah pemuda peserta kelas desain grafisnya.

“Dua orang dari mereka bahkan sudah berhasil membuka usaha percetakan sendiri berbekal ilmu dari tempat ini,” ujar Huddi bangga. 

Keberhasilannya menginspirasi sejumlah pemuda desa untuk berkarya tak membuat Huddi cepat puas. Ia justru terpacu untuk untuk bisa mendirikan Program Kampung Sahabat Desain Grafis, lengkap dengan sebuah balai pelatihan desain grafis yang lebih layak dibanding ruangan workshop mungil miliknya. 

“Nantinya diharapkan program ini dapat memberikan bekal supaya warga di desa ini bisa terjun ke dunia pekerjaan,” ungkap Huddi, yang meyakini dengan kemampuan desain grafis setiap orang dapat bekerja.

Harapan Huddi memperoleh sambutan positif. Karena ide yang ia gagas ternyata dinobatkan sebagai salah satu dari tiga pemenang program tanggung jawab sosial korporasi alias CSR, dari Tata Motors, sebuah perusahaan otomotif asal India, dan Dompet Dhuafa, beberapa waktu lalu. Huddi menjelaskan bahwa realisasi Kampung Sahabat Desain Grafis kini sedang dalam tahap pengolahan. 

Tak berhenti sampai di situ saja, Huddi bahkan semakin yakin bisa mewujudkan apa yang ia beri nama Kampung Impian. Yaitu sebuah kampung yang ia rancang sehingga dapat menjadi kampung wisata untuk keluarga, namun memiliki fasilitas pendidikan untuk anak-anak usia dini. (Sandi Eko)



inspirasi

Kecantikan adalah kekuatan; senyum menjadi pedangnya.

Charles Reade, novelis Inggris
Telah Terbit
September 2015




Review

The Warrior Daughter

10 Sep 2015

Judul :The Warrior Daughter Penulis : Happy Salma Penerbit : Titimangsa Foundation Tahun Terbit : Cetakan I, 2015 Jumlah Halaman : 256 halaman The Warrior Daughter mengisahkan biografi Desak Nyoman Suarti, Kartini masa kini yang mempertahankan desain kerajinan perak khas nusantara dari kl...


Daylight

10 May 2015

Iris Boelens, pengacara, mengalami kasus pelik yang melibatkan kliennya, seorang produser film dewasa. Belum selesai kasus tersebut, ia juga harus menemukan kenyataan bahwa ia ternyata memiliki seorang kakak kandung, Ray, yang sedang menjalani masa tahanan. Kunjungan Iris kepada Ray di penjara m...


Album Perdana Milik Frau Akan Dirilis Ulang

4 Feb 2015

Perilis album piringan hitam yang bermarkas di Yogyakarta, menyampaikan kabar gembira: album perdana Frau akan dirilis dalam format piringan hitam! Anda masih ingat dengan Starlit Carousel? Ya, merupakan judul mini-album yang berisikan materi lagu-lagu apik milik Frau, yang pernah dirilis secara ...


Sate Jepang Nan Lezat Menawan

3 Sep 2015

Kalau Anda mengira bahwa kuliner Jepang hanya melulu sushi, yakiniku, teriyaki dan chicken katsu, maka Anda salah besar. Karena selain mereka ada pula hidangan bernama yakitori. Salah satu restoran yang mengkhususkan diri pada hidangan jenis ini adalah restoran Robaa Yakitori, yang pertama kali buka...


service solahart

12 Nov 2013

Service Solahart Water Heater Hub : (021 )71231659 – 082113812149 / 085920773653 CV.Fikri Mandiri Jaya Alamat: Jalan Raya Pasar Minggu No.09 Pancoran Jakarta Selatan Email:mandirijaya.fikri@yahoo.com www.fikrimandirijaya.webs.com Kami adalah penyedia jasa service / perbaikan pemanas air,...