SOBAT INSPIRATIF
16 Jul 2012

Mengubah Lahan Tambang Jadi Lahan Hijau

Penyelamat lingkungan dari ladang penambangan bijih timah yang rusak berat.

Pulau Bangka adalah kontradiksi. Di satu sisi pulau itu memiliki pemandangan alam yang indah dengan pantai-pantai berpasir putih dan berair jernih.

Keindahan pantai Bangka semakin memesona dengan hamparan batu-batu granit berukuran raksasa, dan membuat keseluruhan lansekap tampak unik dibandingkan pantai di kawasan lain di Indonesia.

Namun pada sisi lain, lubang-lubang besar menganga, bekas galian bijih timah yang sudah berlangsung ratusan tahun mudah sekali ditemukan di pulau itu. Luas lubang, atau biasa disebut kolong, beragam antara 1-2 hektar, untuk pertambangan yang ada saat ini, dan 5-10 hektar dengan kedalaman sekitar 20 meter di pertambangan besar dan lama.
Dan selama beratus-ratus tahun pula tak ada upaya nyata untuk merevitalisasi lahan di pulau itu.

Rupanya paradigma bahwa ‘lahan bekas tambang timah tak mungkin dihijaukan kembali’ atau ‘butuh waktu sangat lama dan teknologi canggih untuk mengembalikan fungsi lahan bekas tambang timah seperti sedia kala’ telah terbenam kuat di kepala para pemangku kepentingan. Tetapi Djohan Riduan Hasan, pengusaha peleburan (smelter) bijih timah, berhasil membalik anggapan tersebut dengan membangun Bangka Botanical Garden (BBG).

Sebagai warga asli Bangka, Djohan patut resah dengan ketergantungan sangat besar masyarakat di wilayah tersebut terhadap timah. Jika suatu saat timah sudah habis, masyarakat Bangka belum siap dengan pekerjaan di luar hasil tambang itu. Akibatnya bisa sangat menyedihkan: Bangka akan ditinggalkan masyarakatnya karena tidak dapat memberi penghidupan yang layak. 

Djohan mengacu kepada pengalamannya berkunjung ke Pulau Phuket, Thailand, pada 2002. Seperti halnya Bangka, Phuket juga daerah bekas tambang timah. Tetapi setelah 16 tahun tambang timah ditutup, masyarakatnya tetap makmur berkat sektor pariwisata.
Berdasarkan analisis Djohan, kunci keberhasilan Phuket keluar dari industri pertambangan disebabkan tiga hal, yaitu masyarakatnya punya modal kemauan untuk berubah, seluruh stake holder bersatu mempersiapkan time table atau rencana, serta lingkungannya tetap terjaga.

Dengan niat besar melakukan perubahan, Djohan dan tim juga berkunjung ke Malaysia dan Singapura untuk mendapatkan referensi cara memperbaiki lingkungan yang murah, efisien dan mendapatkan keuntungan. Djohan menegaskan, prinsip ‘kalau emas menjadi emas, itu biasa. Kalau kotoran menjadi emas, itu yang luar biasa’, kepada seluruh tim.
Djohan memulai langkah besar pada 2005, saat ia mendapat tuduhan dari sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) bahwa limbah yang dihasilkan perusahaan smelternya, PT Donna Kembara Jaya, beracun dan berbahaya.

Dengan semangat ingin membuktikan bahwa tuduhan tersebut tidak benar, Djohan membuat kolam di sebidang lahan menganggur yang terletak di belakang smelter, kemudian diisi dengan air limbah dan ikan. Hasilnya? Ikan yang disebar dapat hidup.
Lantaran masih penasaran dengan tuduhan tersebut, Djohan memutuskan untuk menanam cabai dan tomat di areal yang sama, dan menyiram tanaman dengan air limbah dari pabriknya. Ternyata, tanaman dapat tumbuh dengan baik, apalagi setelah diberi pupuk.

Merasa tidak cukup puas dengan keberhasilan skala kecil tersebut, ia melanjutkan dengan penanaman kembali areal di sekitar lahan tambangnya. Djohan meratakan lahan tersebut dan menanam berbagai tanaman produktif, seperti jambu mete, sengon dan ketapang, di area bekas tambang di darat dan konservasi bakau pada lahan bekas tambang di pinggir pantai.

Namun usaha tersebut tidak sepenuhnya disetujui oleh masyarakat. Lahan yang sudah dihijaukan dengan pohon sengon, ketapang cemara dan bakau dirusak lagi oleh masyarakat. Mereka kembali mengolah lahan menjadi pertambangan karena masih menemukan pasir timah.

Rupanya kondisi pertambangan bijih timah di Bangka terbilang unik. Saat harga timah naik, semua orang berbondong-bondong mengolah tambang timah mereka. Sementara saat harga turun, tambang timah akan ditinggalkan karena dianggap merugikan dan modal sulit kembali.

Di beberapa tempat, staf Djohan di lapangan bahkan dikejar sejumlah orang bersenjata golok karena dikira hendak merampas lahan – buah dari isu yang diembuskan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Belum lagi kemunculan beberapa pihak yang mencoba memanfaatkan gerakan penghijauan itu untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Tetapi semangat Djohan tidak surut.

Ia dan tim malah bertekad membangun satu kawasan khusus sebagai proyek contoh perbaikan lingkungan. Djohan beralasan, masyarakat Bangka memang harus diberi bukti keberhasilan terlebih dahulu, baru bisa mencontoh.



Modal awal Djohan dalam pembangunan BBG adalah tiga ekor sapi Bali, enam ekor sapi perah (FH) dewasa, serta 14 ekor sapi pedet. Kotoran ternak sapi tersebut digunakan sebagai kompos untuk menetralkan air di dalam kolam budidaya ikan yang akan dibangun. Kompos juga akan mengembalikan unsur hara tanah yang dibutuhkan oleh tanaman. Sebelumnya, kandungan hara tanah di wilayah tersebut relatif sedikit akibat didominasi hamparan bekas tailing dan kolong-kolong bekas penambangan, sehingga lahan tidak produktif.

    Sinergi peternakan sapi dan perbaikan lingkungan tersebut juga didukung tenaga ahli dari pemerintah daerah dan pusat, serta Balai Inseminasi Buatan (BIB) Lembang, Balai Benih Ikan Jawa Barat dan sebagainya. Hasilnya, limbah berhasil diolah. Tinja dan urin dari peternakan, misalnya, dijadikan pupuk dan biogas. Air bekas cucian yang mengandung mikroplankton ditampung untuk dijadikan makanan ikan, lalu disalurkan ke bekas tambang yang telah diperdalam untuk dijadikan kolam ikan. Rumput gajah – yang lahannya disirami pupuk buatan peternakan – dijadikan makanan sapi.

Kini, walau baru bisa memanfaatkan dan menghijaukan 100 hektar – target 150 hektar – dari 300 hektar lahan yang dibeli sedikit demi sedikit, BBG sudah memiliki 400 ekor sapi yang terdiri dari sapi perah dan sapi potong. Dari peternakan itu, BBG menghasilkan 45 ton kompos setiap bulan, dan produksi pupuk cair hasil fermentasi urin sapi mencapai 500 liter per hari.

Dari 80 sapi perah, BBG juga sudah mampu menghasilkan 160 liter susu per hari. Itu sebabnya BBG dapat berkomitmen membagikan secara bergilir 500 sampai 700 gelas susu ke sejumlah sekolah yang ada di Bangka setahun dua kali, sebagai bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan-perusahaan smelter yang mendukung BBG.

Dari sisi pertanian, BBG kini berkonsentrasi untuk membudidayakan buah naga, yang telah mampu menghasilkan sekitar 90kg sekali panen dari lahan seluas 1,6 hektar, sejumlah tanaman hias serta tanaman hutan. BBG juga tengah berupaya membudidayakan buah kurma di lahan seluas 1,8 hektar, serta tanaman khas Bangka, termasuk berbagai jenis anggrek dan pohon kelawan yang kini hampir punah. Bahkan sebuah hutan di Bangka Barat telah dibeli Djohan untuk keperluan tersebut.

Menurut Djohan, keberhasilan BBG memang sudah bagus. Namun ia berharap BBG mampu menjalankan misinya menjadi lokasi penelitian, pendidikan, olahraga alam dan pariwisata. Dan yang terpenting, BBG mampu menjadi contoh bagi pengusaha lain dan pemerintah daerah untuk membuat kawasan-kawasan sejenis. Dengan demikian diharapkan masyarakat setempat termotivasi untuk memperbaiki lingkungan mereka, sehingga tercipta peluang kerja baru.

Yang tengah dirintis oleh BBG adalah kerja sama dengan lembaga pendidikan dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi, serta membuka kelas dan pelatihan program penghijauan dan pemberdayaan serta pemanfaatan lingkungan kepada murid PAUD, TK dan SD. Djohan berharap, akan lahir generasi muda baru yang cinta penghijauan. (Antono Purnomo)



inspirasi

Saya tidak suka dengan perkelahian. Bila saya memiliki musuh, saya akan memaafkannya, mengajaknya ke tempat yang tenang, baru menghabisinya di sana

Mark Twain, penulis
Telah Terbit
September 2015




Review

The Warrior Daughter

10 Sep 2015

Judul :The Warrior Daughter Penulis : Happy Salma Penerbit : Titimangsa Foundation Tahun Terbit : Cetakan I, 2015 Jumlah Halaman : 256 halaman The Warrior Daughter mengisahkan biografi Desak Nyoman Suarti, Kartini masa kini yang mempertahankan desain kerajinan perak khas nusantara dari kl...


Daylight

10 May 2015

Iris Boelens, pengacara, mengalami kasus pelik yang melibatkan kliennya, seorang produser film dewasa. Belum selesai kasus tersebut, ia juga harus menemukan kenyataan bahwa ia ternyata memiliki seorang kakak kandung, Ray, yang sedang menjalani masa tahanan. Kunjungan Iris kepada Ray di penjara m...


Album Perdana Milik Frau Akan Dirilis Ulang

4 Feb 2015

Perilis album piringan hitam yang bermarkas di Yogyakarta, menyampaikan kabar gembira: album perdana Frau akan dirilis dalam format piringan hitam! Anda masih ingat dengan Starlit Carousel? Ya, merupakan judul mini-album yang berisikan materi lagu-lagu apik milik Frau, yang pernah dirilis secara ...


Sate Jepang Nan Lezat Menawan

3 Sep 2015

Kalau Anda mengira bahwa kuliner Jepang hanya melulu sushi, yakiniku, teriyaki dan chicken katsu, maka Anda salah besar. Karena selain mereka ada pula hidangan bernama yakitori. Salah satu restoran yang mengkhususkan diri pada hidangan jenis ini adalah restoran Robaa Yakitori, yang pertama kali buka...


service solahart

12 Nov 2013

Service Solahart Water Heater Hub : (021 )71231659 – 082113812149 / 085920773653 CV.Fikri Mandiri Jaya Alamat: Jalan Raya Pasar Minggu No.09 Pancoran Jakarta Selatan Email:mandirijaya.fikri@yahoo.com www.fikrimandirijaya.webs.com Kami adalah penyedia jasa service / perbaikan pemanas air,...