SOBAT INSPIRATIF
29 Feb 2012

Kasih yang Memberi Penghidupan

Pengalamannya sebagai sukarelawan membuat Leon tergerak hatinya untuk membantu sesama

Demi membantu sesama yang membutuhkan, Leonardo Kamilius rela meninggalkan kariernya yang gemilang di usia muda.

Bagi Anda, uang Rp500.000 mungkin cuma bisa membeli sepasang sepatu di sebuah pusat perbelanjaan. Namun bagi Endih Bin Endi, atau Ndih, 53, begitu dia biasa dipanggil, uang sebesar itu merupakan modal usaha, yang dapat mencukupi kebutuhan keluarganya yang tinggal di RW 03, Kelurahan Kelapa Dua, Cilincing, Jakarta Utara.

Suaminya yang bekerja sebagai kuli bangunan hanya mendapatkan uang jika kebetulan sedang ada proyek. Dan berjualan nasi ketan dengan serundeng, plus menjajakan lumpang maupun cobek, menjadi satu-satunya jalan bagi Ndih untuk membeli bahan makanan sehari-hari dan memberikan sedikit uang jajan bagi cucunya.
    
“Setiap hari saya bangun sekitar jam satu pagi membuat nasi ketan dengan serundeng, sampai jam empat, terus mulai keliling jam enam sampai delapan. Setelah beres-beres di rumah dan mengurus suami, jam tiga sore belanja bahan-bahan ke pasar, terus keliling jualan cobek, sampai jam lima. Tidur sebentar, terus bangun jam tujuh untuk mempersiapkan bahan-bahan sampai tengah malam. Tidur lagi satu jam,” kata Ndih memaparkan jadwal hariannya. “Kalau tidak bisa tidur, saya nyari sampah plastik, dikumpulin, terus dijual Rp3.000 sampai Rp5.000 per kilo.”
    
Dari keuntungan 100-500 rupiah per nasi ketan yang terjual, Ndih mendapatkan 10.000 rupiah per hari. “Kadang kurang dari itu karena tidak habis. Kalau cobek, ya lumayan, bisa 30.000 rupiah per hari. Paling sehari dapat 35.000 rupiah,” katanya. Dengan penghasilan seperti itu, meminjam uang dari bank untuk tambahan modal usaha bukanlah pilihan bagi Ndih karena bisa-bisa cicilan yang harus dibayar jauh lebih besar daripada yang bisa dia hasilkan. Yang tersisa adalah rentenir atau bank keliling, yang memberikan pinjaman dengan bunga sebesar 25-40% per bulan. “Minjem 500.000 rupiah di bank keliling, cicilannya bisa 25.000 rupiah per hari,” tambahnya.

Namun sejak awal Februari tahun ini, Ndih dan warga Kelurahan Cilincing dan Kelapa Dua punya pilihan lain, lewat Koperasi Kasih Indonesia (KKI). Koperasi itu memberikan pinjaman kepada warga, yang kebanyakan ibu-ibu. Dengan pinjaman Rp300.000 sampai Rp1.500.000, hingga saat ini sudah 195 orang memiliki modal tambahan bagi usaha kecil yang mereka jalankan, mulai dari menarik becak, menjajakan kue atau makanan lain, hingga mengkreditkan barang-barang rumah tangga.
    
“Kebanyakan dari mereka meminjam Rp500.000, yang harus dilunasi dalam waktu 25 minggu. Setiap minggu mereka menyetor Rp30.000, untuk cicilan plus bunga Rp25.000, Rp2.000 untuk administrasi dan Rp3.000 sebagai tabungan peminjam yang disimpan di koperasi,” kata Leonardus Kamilius, yang biasa dipanggil Leon, sang penggagas KKI.
    
Pemuda berusia 25 itu mengaku, ia membentuk KKI karena terinspirasi buku Muhammad Yunus – pendiri Grameen Bank – yang berjudul Social Business. “I fell in love with that concept, menggabungkan bisnis dan sosial. Tujuan utama KKI bukan profit atau memaksimalkan keuntungan, tetapi justru memaksimalkan dampak sosial. Tetapi memang dalam menjalankan koperasi itu, tetap dengan cara bisnis, yang berarti harus ada keuntungan. Secukupnya saja, sekadar untuk menutupi biaya-biaya operasional koperasi,” tambah lulusan Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia, yang mengelola KKI bersama teman kuliahnya, Lucyana Siregar, dan dibantu oleh Petrus Partono, Yuswati dan Denni Pasaribu.
    
Adapun dampak sosial yang ingin dicapai oleh Leon lewat KKI adalah pengurangan kemiskinan, sehingga taraf hidup warga di kedua kelurahan yang menjadi wilayah kerja KKI, bisa naik. “Fakta di lapangan, ibu-ibu itu terjerat bank keliling, memiliki penghasilan kecil dan naik-turun, serta tidak punya tabungan. Kalaupun ada, untuk arisan saja,” kata Leon. “Menabung di bank terlalu merepotkan buat mereka. Akhirnya mereka menyimpan uang di bawah bantal, sehingga lama-lama habis sekadar untuk makan, beli baju, tetapi tetap tidak punya rumah, anak tetap tidak bisa sekolah.” Oleh karena itu, KKI tak hanya menyediakan pinjaman, tetapi juga memfokuskan diri untuk mengedukasi para peminjam tentang cara mengelola keuangan mereka.
     
Seminggu sekali, bersamaan dengan penyetoran cicilan, diadakan pertemuan rutin. “Mereka memang dipaksa datang ke koperasi untuk menyetor. Kalau tidak datang, maka hal itu bisa memengaruhi jumlah pinjaman mereka berikutnya. Bisa turun, atau malah tidak bisa meminjam lagi,” jelas Leon. Hal itu, menurutnya, untuk melatih disiplin para peminjam, sehingga diharapkan juga bisa diterapkan ke hal-hal yang lain dalam kehidupan mereka. “Mendidik mereka itu tantangan besar karena mengubah pola pikir dan kebiasaan yang sudah mereka lakukan dari kecil,” tambahnya.
Ke-195 peminjam pun dibagi menjadi 13 kelompok, yang terdiri dari 15 sampai 20 orang. Dalam pertemuan kelompok setiap minggu itulah, Leon menyelipkan pelatihan seputar menabung, mulai dari manfaat, cara hingga sumber tabungan. Mereka diajak menuliskan pengeluaran dan pemasukan uang mereka, lantas diminta membuat patokan untuk setiap pengeluaran agar bisa melakukan penghematan, salah satunya jumlah uang jajan bagi anak-anak mereka. “Banyak yang merasa stres karena tidak biasa melakukan itu. Mereka dipaksa melihat realita bahwa pengeluaran lebih besar dari pemasukan yang sangat pas-pasan,” kata Leon yang juga dengan senang hati memberikan semacam konsultasi untuk usaha yang dijalankan para ibu itu.

Bisnis memang merupakan salah satu passion dalam hidup Leon. Namun dia tak pernah membayangkan akan mengelola koperasi yang memberikan pinjaman mikro, atau berkantor di Cilincing, dalam ruangan kecil yang menumpang di wisma yang berada di bawah naungan sebuah gereja. “Sebagian modal awal koperasi saya ambil dari tabungan pribadi, sehingga saya juga tidak mengambil gaji dari KKI,” kata Leon. Hidupnya bisa dibilang berubah 180 derajat.

Padahal, selepas menyelesaikan kuliah, dia sempat bekerja sebagai junior business analyst di McKinsey & Company. Kariernya di kantor konsultan manajemen terkemuka itu bisa dibilang gemilang karena baru sekitar setahun bekerja, Leon sudah dipromosikan menjadi business analyst, dengan kenaikan gaji tiga kali lipat.

Namun bersamaan dengan promosi tersebut, gempa bumi melanda Padang, Sumatra Barat. Saat itu 2009. “Saya memutuskan berangkat ke Padang selama dua minggu untuk menjadi volunteer, dan membantu mendistribusikan bantuan kepada para korban gempa. Saya hanya merasa tergerak untuk melakukan itu,” ungkapnya. “Tiap hari saya bangun dan bantuin orang. Itu ternyata perasaan yang luar biasa banget. Saya merasa lebih penuh hati. Puas.”
    
Sepulang dari Padang, Leon mulai merasa kehilangan gairah dalam pekerjaannya karena dia ingin lebih banyak lagi membantu sesama, sementara pekerjaan yang dia lakukan tak memungkinkan hal itu. Perfomanya pun mulai memburuk, sampai akhirnya perusahaan meminta Leon keluar, alias dipecat. Beberapa tawaran pekerjaan dari perusahaan lain berdatangan. “Tetapi karena saya dipecat, saya merasa bukan itu jalannya. Ada sesuatu di balik itu, nih. Tadinya saya mau bantu orang setelah saya sukses dulu dalam hidup saya, ketika saya sudah punya semua dulu. Tuhan ternyata sudah memanggil saya sekarang, bukan nanti,” kata pria yang baru menikah sekitar setahun yang lalu itu.

Meski ada juga yang meragukan kelangsungan bisnis sosial ini, namun Leon percaya, akan selalu ada peluang dan jalan yang dibukakan. “Saya merasa lagi diuji dengan semua kesulitan yang harus saya hadapi. Kalau saya bisa setia, saya yakin, things will get better. Saya ketemu beberapa orang, dan mereka selalu bilang, kalau kamu bantuin orang, jangan mengkhawatirkan rezeki, pasti akan datang sendiri,” katanya.

Lamat-lamat, terdengar yel-yel penyemangat yang diteriakkan para ibu-ibu, setiap kali akan memulai pertemuan rutin mereka di KKI, “Kami pasti bisa… mencapai kesejahteraan… dengan jujur, disiplin, usaha keras dan doa. Kami akan berjuang… bekerja dan menabung… demi keluarga tercinta. Kami pasti… pasti… pasti bisa!!!” (Imelda Suryaningsih; Foto Imelda Suryaningsih)



inspirasi

Bermimpilah seakan-akan kau akan hidup selamanya. Hiduplah seakan-akan kau akan mati hari ini.

James Dean
Telah Terbit
September 2015




Review

The Warrior Daughter

10 Sep 2015

Judul :The Warrior Daughter Penulis : Happy Salma Penerbit : Titimangsa Foundation Tahun Terbit : Cetakan I, 2015 Jumlah Halaman : 256 halaman The Warrior Daughter mengisahkan biografi Desak Nyoman Suarti, Kartini masa kini yang mempertahankan desain kerajinan perak khas nusantara dari kl...


Daylight

10 May 2015

Iris Boelens, pengacara, mengalami kasus pelik yang melibatkan kliennya, seorang produser film dewasa. Belum selesai kasus tersebut, ia juga harus menemukan kenyataan bahwa ia ternyata memiliki seorang kakak kandung, Ray, yang sedang menjalani masa tahanan. Kunjungan Iris kepada Ray di penjara m...


Album Perdana Milik Frau Akan Dirilis Ulang

4 Feb 2015

Perilis album piringan hitam yang bermarkas di Yogyakarta, menyampaikan kabar gembira: album perdana Frau akan dirilis dalam format piringan hitam! Anda masih ingat dengan Starlit Carousel? Ya, merupakan judul mini-album yang berisikan materi lagu-lagu apik milik Frau, yang pernah dirilis secara ...


Sate Jepang Nan Lezat Menawan

3 Sep 2015

Kalau Anda mengira bahwa kuliner Jepang hanya melulu sushi, yakiniku, teriyaki dan chicken katsu, maka Anda salah besar. Karena selain mereka ada pula hidangan bernama yakitori. Salah satu restoran yang mengkhususkan diri pada hidangan jenis ini adalah restoran Robaa Yakitori, yang pertama kali buka...


service solahart

12 Nov 2013

Service Solahart Water Heater Hub : (021 )71231659 – 082113812149 / 085920773653 CV.Fikri Mandiri Jaya Alamat: Jalan Raya Pasar Minggu No.09 Pancoran Jakarta Selatan Email:mandirijaya.fikri@yahoo.com www.fikrimandirijaya.webs.com Kami adalah penyedia jasa service / perbaikan pemanas air,...