SOBAT INSPIRATIF
14 Mar 2015

Jejaring Kebaikan

Selfie saat ini bisa dimanfaatkan pula untuk gerakan sosial membantu sesama.

Seorang mahasiswa di Ottawa, Kanada, Josh Stern, mengembangkan aksi tanpa pamrih untuk generasi selfie.

Satu hari di akhir Februari lalu, Josh Stern duduk di dalam bus bersama teman sekelasnya, Daniel Kahn, membahas tentang kemurahan hati. Kedua pria muda yang merupakan mahasiswa kedokteran tingkat dua di University of Ottawa itu baru saja menyelesaikan ujian selama dua jam. Namun alih-alih kembali ke apartemen untuk beristirahat sore itu, Josh lebih bersemangat dengan sebuah ide: ia ingin membagikan roti lapis secara cuma-cuma.  

Kepada Daniel, ia menyampaikan rencana yang bisa dikatakan cukup sederhana. Ia akan merekam dirinya memberi makanan ke orang-orang yang tak memiliki hunian di lingkungan tempat ia tinggal, mengunggah video itu ke halaman Facebook, dan ‘menantang’ beberapa orang teman untuk ikut melakukan kebaikan-kebaikan dalam bentuk apa saja. “Orang-orang akan bersedia melakukan hal serupa bagi orang lain,” tutur Josh. “Dengan demikian, mereka tidak menjadi orang yang memutuskan perbuatan berantai itu.” 

Selama beberapa minggu, pria muda berusia 23 itu mengaku cukup tertekan dengan video ‘neknomination’ yang hilir-mudik di dunia maya. Sebuah kompetisi pesta minum, di mana para mahasiswa saling menyemangati satu sama lain untuk mencapai batas mereka terhadap apa pun yang mereka bisa konsumsi, dengan cara mem-posting rekaman kebodohan mereka. Tindakan tersebut setidaknya telah memakan lima nyawa di kawasan Eropa. Pada satu kasus, seseorang berusia 20 di London, Inggris, tewas setelah menenggak – atau ‘necking’ – ramuan mematikan minuman jenis anggur, wiski, vodka dan bir lager

Kemudian, seminggu sebelum pertengahan semester, Josh tak sengaja menemukan video YouTube seorang pemuda asal Afrika Selatan yang merespons neknomination dengan cara yang menarik: memberi makanan gelandangan yang berada di tepi jalan. Perbuatan positif pemuda tersebut menarik perhatian Josh, dan ia berniat menerapkan ide tersebut di Kanada. Kenapa tidak mengganti hiruk-pikuk tren neknomination maut dengan tantangan lain, yang dapat membuktikan bahwa media sosial tidak hanya berfungsi untuk menyebarkan hal-hal buruk? Ia bahkan sudah menyiapkan sebuah tagar: #feedthedeed.

“Nama yang bagus,” tutur Daniel kepada Josh. “Tetapi saya tidak yakin hal ini akan berjalan.” Ia beralasan bahwa neknoms menjadi populer karena orang-orang menikmati saat menertawakan teman-teman mereka, dan ketika teman-teman menertawakan diri mereka. “Saya ragu kamu akan mendapatkan reaksi yang sama saat melakukan sesuatu yang baik.”   
 
Josh turun di pusat kampus. Tempat itu berjarak 15 menit dengan berjalan kaki ke toko bahan makanan, di mana ia membeli enam kotak daging siap saji untuk roti lapis. Letak kampus itu juga berdekatan dengan Ottawa Mission, kawasan yang memiliki populasi gelandangan terbesar. Josh bisa mengenali beberapa orang jalanan karena perjalanannya setiap kali menuju ke kampus, dan ia pun menyalurkan hadiah yang ia siapkan itu.

Ia buru-buru pulang dan mengunggah rekaman berdurasi dua menit itu, men-tag tiga orang teman di kota-kota berbeda – Calgary, Windsor dan Ottawa – dalam usaha memperluas ide itu. Dalam hitungan menit, mereka menyebarkan video tersebut. Sejam kemudian puluhan orang kembali berbagi. Seminggu setelahnya, tagar itu melampaui lingkaran sosial Josh di dunia maya, dengan ratusan orang dari Vancouver, Montreal dan Toronto membuat video montase Feed the Deed kreasi mereka sendiri. 

Sekelompok pria muda menyumbangkan lusinan pasang kaus kaki, berbatang-batang sikat gigi dan beberapa bungkus pasta gigi ke Goodwill lokal mereka; kelompok lain membagikan token gratis di stasiun kereta bawah tanah; di saat yang lain, ada yang mengirim kado Valentine – cokelat dan bunga – untuk tenaga paramedik.

Dalam waktu enam bulan, 30 negara dengan lebih dari 1.000 video, Feed the Deed telah menjadi kekuatan baik dari efek viral. Kerja sama dengan Kindness Counts, lembaga non-profit bermarkas di Toronto yang mengembangkan gerakan-gerakan kreatif bersumber dari kemurahan hati di lingkungan SMA dan universitas, kini telah memiliki banyak video pada halaman Facebook mereka. Kerja sama tersebut telah membantu menyebarkan ide Josh ke kampus-kampus, hingga menembus Inggris, Australia dan Amerika Serikat. Baru-baru ini, seorang mahasiswa di Maryland meluangkan waktu dari hari-harinya untuk menawarkan tumpangan gratis kepada teman-teman sekelasnya.

Menurut Pamela Cushing, antropolog budaya sekaligus profesor di Western University, London, Ontario, Feed the Deed mengawinkan karakter generasi masa kini – kebutuhan mereka untuk mendokumentasikan dan membagi setiap aktivitas – dengan kecenderungan untuk mendapatkan pengakuan atas perbuatan altruistik mereka. “Efek rasa nyaman karena telah diperhatikan adalah sesuatu yang kerap memicu seseorang melakukan perbuatan baik,” ia menjelaskan. 

Aksi mencengangkan Josh, menurut pendapat Pamela, telah mengubah performa media sosial: meningkatkan nilai selfie untuk menyebarkan perbuatan yang tak mementingkan diri sendiri. “Ia telah membuktikan bahwa Anda dapat menciptakan jejaring sosial bernuansa kebaikan,” ungkap Pamela.

‘Industri mini’ perbuatan baik Josh telah menetas dan terus menjaring orang-orang baru. Setiap hari, video-video baru bermunculan, dengan diibintangi para ‘deeder’ yang membayari bensin atau belanjaan orang yang tak dikenal, atau mengejutkan petugas polisi lewat segelas kopi. Josh telah diajak oleh beberapa perusahaan media sosial yang menginginkan ia bergabung, terutama Facebook, namun ia khawatir bekerja sama dengan ‘seragam’ baru, yang berpeluang meraup keuntungan secara finansial. “Saya selalu menjaga agar karakter organik Feed the Deed terus hidup,” ia menjelaskan. Dan bagaimana dengan temannya yang dahulu meragukan idenya itu? “Oh, sekarang ia percaya banget!” (Carmine Starnino)



inspirasi

Tapi lebih baik tersakiti oleh kebenaran daripada terbuai oleh sebuah kebohongan.

Khaled Hosseini
Telah Terbit
September 2015




Review

The Warrior Daughter

10 Sep 2015

Judul :The Warrior Daughter Penulis : Happy Salma Penerbit : Titimangsa Foundation Tahun Terbit : Cetakan I, 2015 Jumlah Halaman : 256 halaman The Warrior Daughter mengisahkan biografi Desak Nyoman Suarti, Kartini masa kini yang mempertahankan desain kerajinan perak khas nusantara dari kl...


Daylight

10 May 2015

Iris Boelens, pengacara, mengalami kasus pelik yang melibatkan kliennya, seorang produser film dewasa. Belum selesai kasus tersebut, ia juga harus menemukan kenyataan bahwa ia ternyata memiliki seorang kakak kandung, Ray, yang sedang menjalani masa tahanan. Kunjungan Iris kepada Ray di penjara m...


Album Perdana Milik Frau Akan Dirilis Ulang

4 Feb 2015

Perilis album piringan hitam yang bermarkas di Yogyakarta, menyampaikan kabar gembira: album perdana Frau akan dirilis dalam format piringan hitam! Anda masih ingat dengan Starlit Carousel? Ya, merupakan judul mini-album yang berisikan materi lagu-lagu apik milik Frau, yang pernah dirilis secara ...


Sate Jepang Nan Lezat Menawan

3 Sep 2015

Kalau Anda mengira bahwa kuliner Jepang hanya melulu sushi, yakiniku, teriyaki dan chicken katsu, maka Anda salah besar. Karena selain mereka ada pula hidangan bernama yakitori. Salah satu restoran yang mengkhususkan diri pada hidangan jenis ini adalah restoran Robaa Yakitori, yang pertama kali buka...


service solahart

12 Nov 2013

Service Solahart Water Heater Hub : (021 )71231659 – 082113812149 / 085920773653 CV.Fikri Mandiri Jaya Alamat: Jalan Raya Pasar Minggu No.09 Pancoran Jakarta Selatan Email:mandirijaya.fikri@yahoo.com www.fikrimandirijaya.webs.com Kami adalah penyedia jasa service / perbaikan pemanas air,...