SOBAT INSPIRATIF
29 Dec 2013

Buku untuk Kebhinnekaan

Menyebarkan virus pluralisme dengan membangun rumah baca.

Membangun rumah baca adalah satu hal. Tetapi, membangun rumah baca yang dapat menyebarkan virus pluralisme adalah soal lain. Dan itulah yang dilakukan orang-orang ini.

“Saya melihat Indonesia semakin kehilangan kebhinekaannya,” tutur Tony Wijaya, 44, ketika ditanya mengenai pemikiran apa yang mencetuskan ide mendirikan Komunitas Kami Anak Bangsa (KKAB), organisasi nirlaba yang ia dirikan dua tahun silam. “Orang-orang semakin mementingkan diri sendiri, suku, agama,” lanjutnya. “Padahal, identitas kita, kan, justru kebhinekaan itu.”

Tony adalah pengusaha yang bergerak di bidang serat optik. Dahulu ia studi di Edith Cowan University, Perth, sebelum berkarier di PT Asia Pulp and Paper sebagai general manager. Sejak lama, ia telah aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial, meski tidak pernah bergabung dalam komunitas. 

Berbeda dengan Stefani Hanjaya, rekan Tony dalam mendirikan KKAB. Stefani sebetulnya adalah teman semasa SMA Tony, namun mereka baru belakangan bertemu kembali. Menurut Tony, justru Stefani yang setahu ia sangat aktif di berbagai komunitas. Apalagi, selain aktif dalam berbagai kegiatan sosial, Stefani juga memiliki usaha toko buku Cita Bookstore.

Meski memiliki latar belakang berbeda, mereka berdua memiliki satu kesamaan: kecintaan terhadap buku. Tony memiliki impian agar setiap anak dapat memperoleh pengalaman dan petualangan lewat membaca buku. Hal itu yang kemudian dijadikan fokus pertama kegiatan KKAB, lewat pendirian Rumah Baca Indonesia (RBI), program donasi buku yang hasilnya ditujukan kepada daerah-daerah yang membutuhkan.

“RBI pertama didirikan di Tulang Bawang, Lampung. Daerah itu dipilih karena ada permintaan dari sebuah gereja di sana,” jelas Tony.

KKAB memang mengandalkan informasi dari para relawan dan anggotanya yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia dalam berkegiatan. Padahal menurut Tony, pada awalnya program RBI hendak dibuat lebih menyeluruh, mulai dari membuat bangunan sampai mengorganisir sendiri. Namun, banyak kekurangan dan hambatan yang membuat rencana mesti tertunda.

Itu sebabnya, alih-alih melakukan sendiri, KKAB justru memanfaatkan jejaring yang ada: begitu ada permintaan buku, tim KKAB mendatangi lokasi. Hal tersebut belakangan berdampak positif. “Dengan cara itu, relawan dan anggota di daerah yang kami bantu juga akan merasa bertanggung jawab,” tutur Tony.

Tidak membutuhkan waktu lama bagi KKAB untuk membangun RBI yang pertama. Setelah informasi didapat dan disepakati, buku-buku pun dikumpulkan dengan cara sederhana, yaitu melalui pemberitahuan lewat telepon dan media sosial. Tak lama, berkardus-kardus buku, yang terdiri dari buku bacaan anak, komik, buku ilmu pengetahuan, kamus, buku keagamaan, hingga majalah, terkumpul. Akan tetapi, itu barulah separuh perjuangan. Karena perjuangan selanjutnya yang lebih menantang adalah perjalanan darat yang mesti ditempuh untuk mengantar buku-buku itu.

Perjalanan menuju Kabupaten Tulang Bawang dari Jakarta membutuhkan waktu 13 jam. Itu dilalui dengan melibas jalan-jalan berlubang, serta melintasi daerah-daerah yang belum berkembang, di mana listrik hanya tersambung saat malam hari.

Pun demikian, segala kesulitan terbayar ketika melihat antusiasme anak-anak setempat yang menyambut. Mereka dengan gembira membantu mengangkat dan membuka kardus berisi buku, serta meletakkannya pada rak buku yang telah dibuat sebelumnya.

“Menyaksikan bagaimana anak-anak melihat buku-buku yang kita bawa, itu adalah hal yang paling menyentuh. Mereka, kan, tidak pernah melihat buku-buku itu, jadi mereka senang,” tutur Tony.


Peresmian RBI pertama dilakukan oleh pengurus kelurahan setempat. Selain membangun RBI, KKAB juga sempat menyumbangkan sumur bor untuk membantu penduduk yang kesulitan air bersih, jika musim kemarau tiba.

Keberhasilan di Tulang Bawang menimbulkan gairah untuk berbuat lebih banyak terhadap daerah-daerah lain di Indonesia. Dan seiring dengan waktu, tim KKAB pun semakin terorganisir.

Beberapa relawan dibagi ke dalam beberapa divisi supaya lebih fokus. Suci Mudiati mengurus bidang pelayanan masyarakat dan tanggap bencana, Arifa Tan di bidang pendidikan, Fakhril M. Hakim di bidang kesejahteraan, dan Ance Dewianti di bidang hubungan masyarakat. Sementara, Wanda Hamidah diangkat menjadi dewan pembina KKAB, sekaligus ‘informan’ terkait daerah-daerah yang membutuhkan bantuan dan mediator yang mempermulus laju birokrasi.

Tak hanya dari segi organisasi, metode dan sistem donasi buku pun mulai terbentuk. Jika pada awalnya KKAB mendapatkan buku dari para relawan, kini mereka memiliki daftar buku wajib bagi para donatur.

“Seiring perjalanan waktu, kami melihat banyak buku yang sebenarnya kurang layak. Sementara itu kami juga tidak ada waktu untuk menyortir. Jadi kami membuat daftar buku wajib untuk para sponsor,” jelas Ance.

Buku-buku tersebut meliputi semua bidang pelajaran dari prasekolah hingga SMA, buku biografi inspiratif, komik dan novel yang mendidik, buku seri tokoh dunia, hingga buku keterampilan yang cocok dengan lokasi RBI.

Tony menjelaskan bahwa untuk satu RBI mereka mengumpulkan sekitar dua ribu buku. Sementara, untuk pilihan lokasi RBI, ia mensyaratkan dua hal. Yang pertama, satu visi bahwa perbedaaan adalah kekuatan. Dan yang kedua adalah tempat tersebut haruslah siap menjalankan RBI.

Dan satu per satu RBI pun menyusul berdiri, mulai dari di Sanggau di Kalimantan Barat, Kupang di Nusa Tenggara Timur (NTT), Minahasa di Sulawesi Utara, Pangandaran di Jawa Barat, Klungkung di Bali, lima daerah di Merauke, Papua, dan Manggarai, Jakarta Selatan.

Satu hal yang menarik, tak semua RBI didirikan di sekolah umum. Beberapa RBI didirikan berkat kerja sama dengan pesantren maupun ashram. “Tetapi itu bukan berarti kami memenuhi RBI dengan bacaan dari agama tertentu untuk memengaruhi,” tutur Tony. “Kami ingin anak-anak memahami perbedaan di luar sana. Dan itu didukung oleh tempat mereka.”

Kendati memulai kegiatan lewat pembangunan rumah baca, sesungguhnya dalam dua tahun ini KKAB telah menjalankan beberapa program lain.

Di bidang tanggap bencana, misalnya, Suci kerap berjibaku dengan air untuk mengantarkan barang kebutuhan pokok untuk para korban banjir, di Grogol maupun Pluit. Begitu pula saat api menjilat kawasan Manggarai, Jakarta Pusat, dan menyisakan para pengungsi.

Selain itu, beberapa waktu lalu mereka baru saja meluncurkan program Celengan Bangsa. Itu program unik yang bertujuan mengajar anak-anak menabung serta berbagi dengan sesama. Mekanismenya adalah setiap orang dapat membeli celengan seharga Rp25.000. Setelah celengan tersebut penuh, mereka dapat menyerahkan kepada KKAB untuk ditukar dengan celengan baru. Uang yang terkumpul dari Celengan Bangsa tersebut lantas digunakan untuk membantu anak-anak putus sekolah melanjutkan sekolah mereka.

Selain ketiga model program yang telah berjalan, KKAB tengah menjajaki kemungkinan membuat program pemberdayaan masyarakat. “Sekarang kami sedang memerhatikan bencana gunung meletus Rokatenda, di Kabupaten Sikka, NTT. Pengungsi masih belum tersentuh pemerintah dan pemerintah daerah setempat,” jelas Tony. “Kebetulan kami punya teman di sana yang memberikan informasi bahwa ibu-ibu di sana sudah membuat kerajinan tangan, tetapi tidak bisa memasarkannya. Nah, kami akan mencoba mempromosikan.”

Kegiatan demi kegiatan telah berhasil dijalankan oleh KKAB, meski komunitas itu baru berjalan sekitar dua tahun. Di tengah situasi kebhinekaan Indonesia yang kerap ternodai aksi-aksi bernuansa SARA, aktivitas KKAB seolah menjadi oase penyejuk yang mengatakan bahwa masih ada harapan, dan setiap orang dari kalangan manapun dapat berbuat sesuatu demi kepentingan orang banyak dan kebaikan yang lebih besar.  
Perbedaan itu indah, keberagaman itu anugerah. (Bayu Maitra)



inspirasi

Senjata paling ampuh di muka bumi adalah jiwa manusia yang terbakar.

Ferdinand Foch
Telah Terbit
September 2015




Review

The Warrior Daughter

10 Sep 2015

Judul :The Warrior Daughter Penulis : Happy Salma Penerbit : Titimangsa Foundation Tahun Terbit : Cetakan I, 2015 Jumlah Halaman : 256 halaman The Warrior Daughter mengisahkan biografi Desak Nyoman Suarti, Kartini masa kini yang mempertahankan desain kerajinan perak khas nusantara dari kl...


Daylight

10 May 2015

Iris Boelens, pengacara, mengalami kasus pelik yang melibatkan kliennya, seorang produser film dewasa. Belum selesai kasus tersebut, ia juga harus menemukan kenyataan bahwa ia ternyata memiliki seorang kakak kandung, Ray, yang sedang menjalani masa tahanan. Kunjungan Iris kepada Ray di penjara m...


Album Perdana Milik Frau Akan Dirilis Ulang

4 Feb 2015

Perilis album piringan hitam yang bermarkas di Yogyakarta, menyampaikan kabar gembira: album perdana Frau akan dirilis dalam format piringan hitam! Anda masih ingat dengan Starlit Carousel? Ya, merupakan judul mini-album yang berisikan materi lagu-lagu apik milik Frau, yang pernah dirilis secara ...


Sate Jepang Nan Lezat Menawan

3 Sep 2015

Kalau Anda mengira bahwa kuliner Jepang hanya melulu sushi, yakiniku, teriyaki dan chicken katsu, maka Anda salah besar. Karena selain mereka ada pula hidangan bernama yakitori. Salah satu restoran yang mengkhususkan diri pada hidangan jenis ini adalah restoran Robaa Yakitori, yang pertama kali buka...


service solahart

12 Nov 2013

Service Solahart Water Heater Hub : (021 )71231659 – 082113812149 / 085920773653 CV.Fikri Mandiri Jaya Alamat: Jalan Raya Pasar Minggu No.09 Pancoran Jakarta Selatan Email:mandirijaya.fikri@yahoo.com www.fikrimandirijaya.webs.com Kami adalah penyedia jasa service / perbaikan pemanas air,...