Artikel ini membuat Anda :
 
  Bahagia     0%   Terinspirasi    0%
  Penasaran     0%   Biasa Saja     0%

 Lawan Obesitas dengan Bedah Bariatrik 

Ketika berbagai macam metode melangsing tubuh sudah dicoba, dan tidak menunjukkan hasil positif, apa lagi yang Anda bisa lakukan?

Jawabannya: bariatric surgery atau bedah bariatrik, untuk mengurangi berat badan. Di Indonesia, metode itu masih sangat jarang dilakukan. Padahal di negara tetangga, Filipina, bariatric and metabolic surgery yang diperkenalkan di sana delapan tahun lalu sudah sangat populer.

Dr. Jonathan D. Adora, M.D., ahli bedah invasif minimal dan laparoskopik lanjutan di St. Luke's Medical Center, Filipina, menjelaskan bahwa pembedahan itu pertama kali dilakukan di St. Luke's Medical Center untuk pasien dengan indeks massa tubuh (IMT) lebih dari 50.

“Kala itu dilakukan dengan metode pembedahan terbuka gastric bypass, namun seiring perjalanan waktu, kini dengan metode pembedahan laparoskopik minimal invasif. Dengan demikian prosedur itu semakin aman dan tidak terlampau rumit lagi,” ujar Dr. Jonathan, yang menganggap obesitas sebagai penyakit lantaran banyak sekali penyakit lain yang meliputi.

“Bariatric surgery masih jarang dilakukan di Indonesia karena orang dengan obesitas, apalagi morbid obessity – mencapai bobot tubuh 200 kilogram lebih – di negeri ini masih sedikit,” ujar Dr. Errawan Wiradisuria, SpB-KBD, M.Kes., ahli bedah saluran cerna di Mayapada Hospital Lebak Bulus, presiden Perhimpunan Bedah Endolaparoskopik Indonesia (PBEI), dan sekjen Ikatan Ahli Bedah Digestif Indonesia. “IMT orang tersebut harus di atas 30 sebagai indikasi seseorang memerlukan pembedahan itu.”

Walau demikian, menurut Dr. Errawan, IMT juga tidak selalu menjadi patokan karena ada pertimbangan lain terhadap aktivitas dan keluhan, terutama kalau pasien yang cuma kelebihan berat badan, tetapi ingin operasi.

“Alasan tertentu itu apa? Misalnya, belum IMT 30, tetapi co-morbid dengan penyakit-penyakit penyerta, seperti diabetes melitus, jantung, asma dan hiperlipidemia – kebanyakan lemak dalam darah, serta hiperkolesterolemia – kebanyakan kolesterol dalam darah. Itu semua indikasi sudah boleh dilakukan bariatric surgery,” tegas Dr. Errawan.


TULIS KOMENTAR FORUM


  200 Karakter
** Dengan meng-klik tombol "kirim" berarti kami telah menyetujui Privacy Policy & Disclaimer kami.



 
Join Us Now
April 2015 (24 Maret 2015 - 23 April 2015)
Tuesday, 24 March 2015


 REVIEWS
Buku Baru Buku Baru
19 May 2015
test





  RDI ON TWITTER