Review Anda

Revolusi Buruh Kapal Penangkap Kepiting
31 May 2013
Revolusi Buruh Kapal Penangkap Kepiting
Revolusi Buruh Kapal Penangkap Kepiting

Oleh A.P. Edi Atmaja

Judul: Kani Kosen: Sebuah Revolusi
Penulis: Kobayashi Takiji
Penerjemah: Andy Bangkit Setiawan
Penerbit: Jalasutra, Yogyakarta
Tahun: Cetakan I, 2013
Tebal: x + 184 halaman
Harga: Rp 42.000,-

BEBERAPA waktu lalu, publik dikejutkan oleh berita “perbudakan” di pabrik pengolahan limbah-aluminium-jadi-panci di Tangerang. Puluhan buruh dianiaya dan dipekerjakan secara sewenang-wenang. Novel ini pun berkisah tentang perjuangan kaum buruh melawan kesewenang-wenangan.

Kani Kosen: Sebuah Revolusi dikarang oleh Kobayashi Takiji, sastrawan komunis yang tewas disiksa oleh kepolisian Jepang di usianya yang ke-29. Novel yang terbit perdana pada 1929—berbarengan dengan Zaman Malaise (Great Depression)—ini meraih kebangkitannya yang spektakuler pada 2008, tatkala krisis ekonomi melanda dunia, termasuk Jepang.

Di Jepang, anak-anak muda tengah galau memikirkan masa depan mereka. Krisis yang melanda Jepang saat Kani Kosen diterbitkan kembali (2008) amat sesuai dengan cerita dalam novel itu. “Anak-anak muda Jepang nampaknya merasa senasib dengan tokoh-tokoh dalam novel,” ujar Kenji Tamura, mahasiswa Jepang yang belajar di Universitas Indonesia (hal viii). Sebab itu wajar jika novel setebal 184 halaman ini lekas mencapai predikat best-seller di Jepang.

“Kani Kosen” berarti kapal pabrik penangkap kepiting (kani: kepiting, ko: pabrik, sen: kapal). Ya, novel ini memang mengisahkan kehidupan para buruh yang bekerja di kapal penangkap kepiting yang bertolak dari Kota Hakodate, Jepang (hal 1).

Terdiri dari sepuluh babak, novel dimulai dengan persuasi pengarang: “Ayo, pergi ke neraka!” Dengan mengatakan itu, pengarang seolah hendak meringkas keseluruhan novel bahkan sebelum memulainya. “Neraka” adalah destinasi yang hendak dideskripkan Kobayashi lewat novelnya. “Neraka” adalah, tentu saja, kapal penangkap kepiting itu.

Kapal penangkap kepiting diawaki oleh sejumlah buruh atau nelayan, seorang kapten, dan seorang mandor atau pemilik kapal. Para buruh, yang rata-rata berumur lima belas tahun (hal 4) itu, dulunya memiliki profesi beragam: ada yang bekas petani, penambang, dan ada pula yang pernah menjadi buruh pabrik di kota (hal 11-14).

Kehidupan para buruh di kapal rongsokan itu benar-benar mengenaskan. Mereka tinggal berdesakan dalam ruang yang disebut “pispot kotoran”. Ruang itu sangat jorok, lembap, dan berbau busuk karena napas dan kepulan asap rokok orang-orang (hal 20). Sehari-hari, mereka hanya makan nasi beserta garam atau sup yang telah basi, tapi selalu dihabiskan dengan lahap (hal 33).

Novel ini memuat banyak kisah menggiriskan. Suatu kali, seorang buruh bernama Miyaguchi menghilang. Mandor kapal menawarkan hadiah bagi siapapun yang menemukannya. Karena tidak kuat menahan lapar, buruh itu pun menyerah. Mandor menyekapnya di WC sehabis memukulinya. Di hari kedua, Miyaguchi pun mati dengan kepala terbungkus tisu toilet (hal 55).

Sosok mandor dalam novel ini diposisikan sebagai antagonis yang nyaris tanpa rasa kemanusiaan. Kali lain, kapal penangkap kepiting itu menangkap sinyal SOS dari kapal Chichibu-maru. Namun, mandor melarang kapten yang berniat menolong kapal malang itu. Alasannya, ada uang asuransi yang jauh lebih penting daripada sekadar menyelamatkan Chichibu-maru (hal 41). Kapten memang pemimpin kapal, tapi di kapal penangkap kepiting mandorlah yang berkuasa.

Sebagai karya sastra proletariat, novel ini menyuguhkan kritik umum atas kapitalisme secara tersamar. Mandor dan para pihak yang berkolusi dengannya, seperti kepala pengawas wilayah, kepala polisi perairan, dan petugas dari serikat buruh (hal 19), mesti dilawan bagaimanapun caranya. Dan di akhir buku, Kobayashi menjelaskan bagaimana revolusi harus dilakukan.

Pertama, buruh yang sadar akan hak-haknya mesti bersatu untuk mengajukan tuntutan. Kedua, sebuah revolusi jangan pernah tergantung pada satu pemimpin. Mati atau ditangkapnya pemimpin harus segera memunculkan pemimpin baru. Novel ini menyentuh rasa kemanusiaan, namun penerjemahannya dilakukan dengan serampangan: cacat bahasa dan ejaan amat banyak ditemukan. []
Review Untuk
Buku


Rating 



*Review merupakan kiriman member.
Pengirim : jagunk55
   Domisili : Kota Semarang



Join Us Now
Edisi November 2014 (24 Oktober - 24 November 2014)
Friday, 24 October 2014


 REVIEWS
Astrolobitch Astrolobitch
24 November 2014
Judul : Astrolobitch. Penulis : Connie Wong. Penerbit : Rakbuku. Tahun terbit : Cetakan 1, 2014. ISBN : 9786021684047. Resensi : Hampir setiap cewek pasti membaca atau bahkan mempercayai ramalan Bintang. Untuk mengetahui bagaimana peruntungan hari ini atau melihat ramalan percintaan minggu ini. Ini juga yang dialami oleh Kinara yang percaya akan ramalan bintang. Bedanya, Kinara m


  RDI ON TWITTER