BLOG
19 Feb 2015

Tentang Keberanian

Pernahkah Anda berpikir apa artinya menjadi berani?

Minggu lalu saya ke Dunia Fantasi (Dufan) dengan rasa cemas. Bukan cemas karena harga tiket mahal, tapi saya segan dengan banyak permainan di sana, terutama yang melibatkan ketinggian dan kepala terbalik. Tetapi karena saya lebih cemas dimusuhi rekan-rekan sejawat, akhirnya jalan juga. Bagusnya, hari itu saya jadi belajar tentang keberanian.

Bicara soal keberanian, semasa SMA saya punya teman jagoan. Ia ahli pencak silat dan berotot besar. Hobinya memang berkelahi. Di sekolah, jika ada orang memandanginya tiga detik saja, ia akan berubah menjadi seorang psikolog dan bertanya, "ada masalah?" Pertanyaannya jelas tendensius. Harapannya, orang tersebut salah menjawab dan tinju melayang. Sayangnya, yang ditanya seringkali mengaku tak punya masalah.

Suatu hari, seorang jagoan SMA lain pindah ke sekolah kami. Ia pindah dengan jumawa, dan menantang kawan saya berkelahi. Jadilah, pada satu siang sepulang sekolah, mereka berdiri berhadap-hadapan di tanah kosong yang dikelilingi pepohonan. Tensi tinggi.

Kawan saya pasang kuda-kuda ala petinju, kedua tangan mengepal di depan wajah. Pertahanannya ketat. Lawannya lebih santai dan percaya diri. Kuda-kudanya menyamping, dengan tangan mengembang rendah sepinggang, menyisakan ruang di bagian kepala. Setelah saling tatap selama beberapa detik, murid baru itu merangsek. Ia melontarkan pukulan penuh ke arah wajah.

Sialnya, teman saya tinggi besar, sementara si murid baru pendek gempal. Teman saya - yang lebih berpengelaman dalam bersilat, sadar jangkauan tangannya lebih jauh. Mudah saja. Ia melepaskan pukulan serupa, mendarat di hidung lawan sekaligus menghentikan serangan seketika. Lawan pusing, megap-megap, terduduk dan mengaku kalah.

Saya berulangkali melihat hal serupa. Teman saya ini pernah menantang preman di kawasan Blok M, membubarkan kerumunan anak punk di Pondok Indah Mal dan Jalan Sambas, dan seterusnya. Pertanyaannya: apakah ia pemberani?

Teman wanita saya lain lagi. Ia takut sekali dengan kecoak, terutama yang berlagak bisa terbang. Saking takutnya, ia seperti punya radar kecoak. Ia bisa mencium keberadaannya, atau merasakan jika ada satu di sekitarnya. Tetapi layaknya film horror, ia tak akan bereaksi hingga terjadi penampakkan. Dan ketika itu sungguh kejadian, selanjutnya adalah kekacauan total.

Segala bantal dan barang berterbangan. Ada teriakan histeris, makian, dan tentu saja, jurus kaki seribu memanggil bala bantuan. Komandonya jelas: Buru dan bunuh! Teman saya takkan bisa tenang jika buruannya belum mampus. Hidupnya akan resah dan dihantui paranoia. Yang paling sial tentu orang rumahnya, yang terpaksa terlibat perburuan kecoak yang mendebarkan.

Suatu hari, ia diminta jaga rumah karena keluarganya pergi ke luar kota. Dan sebagaimana formula film thriller, segala petaka dimulai ketika seseorang ditinggal sendirian. Malam itu, seekor kecoak - yang seolah tahu teman saya sedang sendirian - muncul di hadapannya.

Teman saya tercekat, namun akhirnya teriak juga. Ia lantas menghambur ke dapur, mengambil sapu lidi, dan dengan takut-takut mengibaskannya. Sabetan pertama kena, tapi tidak cukup telak. Lalu kedua. Dan ketiga. Kecoak pergi ke surga.

Saya tidak setuju dengan pembunuhan terhadap binatang tanpa alasan jelas, tapi pembunuhan yang dilakukan teman saya adalah hal yang jarang (biasanya ia melakukannya lewat tangan orang lain). Pertanyaannya: apakah ia penakut?

Keberanian, atau courage, dalam kamus Oxford Dictionary memiliki arti "The ability to do something that frightens one".  Kamus Merriam-Webster mendefinisikannya dengan "mental or moral strength to venture, persevere, and withstand danger, fear, or difficulty." Yang manapun, tersirat bahwa keberanian adalah kualitas yang hanya bisa dipastikan setelah melalui ujian. Ada geliat perjuangan di dalamnya.

Manusia telah mendiskusikan keberanian jauh sebelum ia jadi bahan diskusi di kelas-kelas psikologi hari ini. Pemikiran-pemikiran lama, seperti Tao Te Ching di Timur, sudah menawarkan konsep ini. Di Barat, ada filsuf Romawi, Cicero, yang menempatkannya sebagai salah satu dari empat kualitas utama, bersama kebijaksanaan, keadilan, dan kesederhanaan. Di abad pertengahan, kita ingat suara lantang Aquinas dan Kierkegaard.

Akan tetapi, adalah Aristoteles yang benar-benar mencoba membedah konsep "berani" dalam karyanya Nicomachean Ethics. Karya inilah yang kemudian memberi ide untuk mengukur-ukur kadar keberanian, mengotakkannya, sehingga pada akhirnya membedakan manusia menjadi para pemberani, para penakut dan orang nekad.

Hari itu di Dufan, saya dan keenam kawan lain kerap bingung hendak naik wahana apa. Pasalnya, segala permainan terbaik dan terkini melibatkan ketinggian dan kepala terbalik. Jadi ada saja di antara kami yang urung ikut. Sialnya, orang itu adalah saya.

Beritanya menyebar bak bensin disulut api di media sosial Path. Komentarnya banyak. Ada yang kasih semangat, ada yang meledek, ada juga yang cuma kasih ikon melongo. Seorang kawan juga kirim pesan di Whatsapp. Ia setengah memohon agar paling tidak, sekali seumur hidup, saya mencoba wahana Histeria. "Itu asyik banget!" Katanya. 

Uhuh.

Awalnya saya tak peduli. Histeria adalah wahana yang membawa seseorang naik tinggi puluhan meter dalam hitungan detik, kemudian menjatuhkannya juga dalam hitungan detik. Alasan apa lagi yang saya butuhkan untuk tidak lebih memilih tetap menjejak tanah? Tapi mungkin juga itu yang namanya peer pressure. Negosiasi gagal, dan terpaksa saya naik juga.

Ernest Hemingway, penulis novel drama kawakan, terkenal akan kalimatnya yang mendefinisikan keberanian sebagai "grace under pressure." Dan selama saya terlontar puluhan meter dari tanah dalam wahana Histeria, kalimat itu - entah mengapa - terus-menerus terngiang dalam pikiran.

Yang aneh adalah, kala itu saya merasa detik-detik berjalan melambat. Dan ketakutan yang tak tertahankan itu, entah bagaimana, memudar. Saya melihat laut dan lampu-lampu kota di kejauhan, dari ketinggian. Indah.

Dalam waktu yang hanya sesaat itu, banyak hal berkelebat. Anehnya, saya tidak lagi takut. Saya girang.

Mana yang berani, mana yang takut? Apakah teman SMA saya seorang pemberani? Mungkin. Bagaimanapun, ia belum teruji. Berkelahi, baginya, bukan sebuah masalah. Ia bukan sesuatu yang ditakuti, tidak pula dihindari. Dan jika ia tidak takut, bagaimana bisa ia dikatakan berani? Kita tidak takut pada semut, sehingga bagaimana mungkin menginjak semut adalah hal yang berani? Coba ganti semut dengan buntut harimau, barulah kita bicara.

Lantas bagaimana dengan teman wanita saya? Penakutkah? Mungkin. Tapi yang jelas, pada saat genting ia - secara ajaib - menunjukkan keberanian. Dan biasanya, orang-orang macam ini akan terus melakukannya dalam kehidupan.

Mana yang berani, mana yang takut? Pada akhirnya keberanian bukanlah ketiadaan rasa takut, tetapi kemampuan untuk melampauinya.

Dan jika seseorang berhasil melampauinya, sesungguhnya ia telah membongkar jalan gelap menuju sesuatu yang lebih besar, lebih berharga, dan lebih terang. Sesuatu yang bersemayam di sisi seberang rasa takut.

Hari itu, saya naik Histeria untuk kedua kalinya, dengan lebih baik. 

(Bayu Maitra, wartawan Reader's Digest Indonesia yang juga tukang keliling foto, bukan tukang foto keliling)



inspirasi

Kebaikan adalah bahasa yang bisa didengar oleh tuna rungu dan bisa dilihat oleh tuna netra.

Mark Twain, penulis
Telah Terbit
September 2015




Review

The Warrior Daughter

10 Sep 2015

Judul :The Warrior Daughter Penulis : Happy Salma Penerbit : Titimangsa Foundation Tahun Terbit : Cetakan I, 2015 Jumlah Halaman : 256 halaman The Warrior Daughter mengisahkan biografi Desak Nyoman Suarti, Kartini masa kini yang mempertahankan desain kerajinan perak khas nusantara dari kl...


Daylight

10 May 2015

Iris Boelens, pengacara, mengalami kasus pelik yang melibatkan kliennya, seorang produser film dewasa. Belum selesai kasus tersebut, ia juga harus menemukan kenyataan bahwa ia ternyata memiliki seorang kakak kandung, Ray, yang sedang menjalani masa tahanan. Kunjungan Iris kepada Ray di penjara m...


Album Perdana Milik Frau Akan Dirilis Ulang

4 Feb 2015

Perilis album piringan hitam yang bermarkas di Yogyakarta, menyampaikan kabar gembira: album perdana Frau akan dirilis dalam format piringan hitam! Anda masih ingat dengan Starlit Carousel? Ya, merupakan judul mini-album yang berisikan materi lagu-lagu apik milik Frau, yang pernah dirilis secara ...


Sate Jepang Nan Lezat Menawan

3 Sep 2015

Kalau Anda mengira bahwa kuliner Jepang hanya melulu sushi, yakiniku, teriyaki dan chicken katsu, maka Anda salah besar. Karena selain mereka ada pula hidangan bernama yakitori. Salah satu restoran yang mengkhususkan diri pada hidangan jenis ini adalah restoran Robaa Yakitori, yang pertama kali buka...


service solahart

12 Nov 2013

Service Solahart Water Heater Hub : (021 )71231659 – 082113812149 / 085920773653 CV.Fikri Mandiri Jaya Alamat: Jalan Raya Pasar Minggu No.09 Pancoran Jakarta Selatan Email:mandirijaya.fikri@yahoo.com www.fikrimandirijaya.webs.com Kami adalah penyedia jasa service / perbaikan pemanas air,...