BLOG
24 Feb 2015

Demi Secangkir Kopi

Karena hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dengan secangkir kopi yang tidak enak

“Karena hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dengan secangkir kopi yang tidak enak.”

Pagi hari di akhir pekan, ada kegiatan sederhana yang selalu berlangsung di rumah saya. Menyeduh dan menikmati secangkir kopi.

Saya sebenarnya bukan peminum berat kopi. Saya hanya penikmat kopi kadang-kadang. Jenisnya pun apa saja, entah kopi hitam, kopi susu, kopi tubruk ataupun instan. Kalaupun tidak minum kopi, tak ada yang terasa hilang dari keseharian saya. Bahkan sebelum kuliah, saya tidak terbiasa minum kopi, dan selalu merasa jantung saya berdebar-debar setiap habis meneguk kopi. Tetapi sejak kuliah, saya mulai membiasakan diri dengan kopi, untuk menemani saat-saat harus bergadang menjelang ujian. Sejak itu, apalagi setelah bekerja, hampir setiap hari saya minum kopi, kadang dua atau tiga cangkir dalam sehari.

Sementara suami saya adalah peminum kopi, dan agak pemilih dalam menikmati minuman kesukaannya itu. Sebisa mungkin, bukan kopi instan, dan tidak pakai susu. Ada takaran-takaran khusus untuk secangkir kopi. Dan sejak mengenal French press, menyeduh kopi tak sekadar mencampurkan bubuk kopi dengan air panas. Semua ada caranya, dan lagi-lagi, ukuran dan takaran khusus.

Repot? Jelas! Tetapi kerepotan itu terbayar begitu cairan hitam pekat yang hangat itu tertahan sebentar di dalam mulut, lantas mengalir perlahan melewati dinding tenggorokan. Rasa pahit dan manis saling mengisi dengan seimbang, tanpa ada yang lebih menonjol daripada yang lain.

Begini ritual menyeduh kopi ala suami saya, kala di rumah.

Dengan telaten, dia menyendok bubuk kopi yang digiling agak kasar, dari dalam stoples kaca bertutup merah. Bukan sembarang sendok, tetapi sendok khusus yang ujungnya berbentuk kerucut kecil. Satu takar bubuk kopi kira-kira setara dengan satu sendok makan, tetapi tidak munjung.

Satu… dua… tiga. Tiga takar bubuk kopi campuran jenis Arabika dan Robusta itu berpindah ke bejana kaca French press. Sebelumnya dia terlebih dahulu menjerang air sampai mendidih. Begitu terdengar suara mendesis dari teko tempat merebus air, kompor dimatikan, dan air dibiarkan sebentar sebelum dituang ke bejana kaca. Sekitar dua menit, biar suhu air sedikit turun, tak sampai 100 derajat Celsius.

Kopi bubuk sedikit bergolak ketika bersentuhan dengan air panas. Suami saya memenuhi bejana kaca itu dengan air sampai kurang lebih lima sentimeter dari bibir bejana. “Cukup untuk dua cangkir, kira-kira 250ml,” katanya.

Dengan sendok bertangkai panjang yang terbuat dari plastik, suami saya lantas mengaduk larutan kopi berwarna cokelat pekat itu. Dia mengaduk beberapa putaran searah jarum jam sampai seluruh bubuk kopi dan air tercampur rata. Baru setelah yakin larutan itu tercampur rata, dia mengambil penutup bejana, dan meletakkannya di bibir bejana.

Penutup itu memiliki tangkai di bagian tengah atas, yang bisa dinaikkan dan diturunkan, serta terhubung dengan semacam filter terbuat dari kasa stainless steel, yang disebut plunger. Ketika menutup bejana, dia menaikkan tangkai plunger, lantas membiarkan larutan kopi itu selama empat menit.

Sambil menunggu, dia menyiapkan dua cangkir. Satu cangkir diisi dengan tiga sendok teh gula pasir untuk dirinya, satu lagi hanya dua sendok teh untuk saya. Saya tak terlalu suka kopi yang manis. Setelah empat menit berlalu, tangkai plunger ditekan, sehingga ampas kopi tersaring dan terpisah dari cairan berwarna cokelat jernih di atasnya.

“Kopi siap!” seru suami saya, seraya menuangkan kopi kedua cangkir yang sudah tersedia. Dan aroma wangi kopi panas pun meruap ke seluruh penjuru dapur, menggoda siapa pun untuk menghirupnya pagi itu.

Apakah Anda punya ritual khusus dalam menyeduh kopi?

(Imelda Suryaningsih,
redaktur pelaksana majalah Reader's Digest Indonesia. Selalu tidak pernah risau mengenai apapun juga dan hanya memikirkan yang sekarang saja, tetapi hal itu berubah 180 derajat sejak mempunyai anak)



inspirasi

Jika kita tak memiliki kedamaian, itu karena kita lupa bahwa kita ada untuk sesama.

Mother Teresa
Telah Terbit
September 2015




Review

The Warrior Daughter

10 Sep 2015

Judul :The Warrior Daughter Penulis : Happy Salma Penerbit : Titimangsa Foundation Tahun Terbit : Cetakan I, 2015 Jumlah Halaman : 256 halaman The Warrior Daughter mengisahkan biografi Desak Nyoman Suarti, Kartini masa kini yang mempertahankan desain kerajinan perak khas nusantara dari kl...


Daylight

10 May 2015

Iris Boelens, pengacara, mengalami kasus pelik yang melibatkan kliennya, seorang produser film dewasa. Belum selesai kasus tersebut, ia juga harus menemukan kenyataan bahwa ia ternyata memiliki seorang kakak kandung, Ray, yang sedang menjalani masa tahanan. Kunjungan Iris kepada Ray di penjara m...


Album Perdana Milik Frau Akan Dirilis Ulang

4 Feb 2015

Perilis album piringan hitam yang bermarkas di Yogyakarta, menyampaikan kabar gembira: album perdana Frau akan dirilis dalam format piringan hitam! Anda masih ingat dengan Starlit Carousel? Ya, merupakan judul mini-album yang berisikan materi lagu-lagu apik milik Frau, yang pernah dirilis secara ...


Sate Jepang Nan Lezat Menawan

3 Sep 2015

Kalau Anda mengira bahwa kuliner Jepang hanya melulu sushi, yakiniku, teriyaki dan chicken katsu, maka Anda salah besar. Karena selain mereka ada pula hidangan bernama yakitori. Salah satu restoran yang mengkhususkan diri pada hidangan jenis ini adalah restoran Robaa Yakitori, yang pertama kali buka...


service solahart

12 Nov 2013

Service Solahart Water Heater Hub : (021 )71231659 – 082113812149 / 085920773653 CV.Fikri Mandiri Jaya Alamat: Jalan Raya Pasar Minggu No.09 Pancoran Jakarta Selatan Email:mandirijaya.fikri@yahoo.com www.fikrimandirijaya.webs.com Kami adalah penyedia jasa service / perbaikan pemanas air,...